Yuk, Kelola Jejak Digital yang Baik

 Yuk, kelola Jejak Digital yang Baik




        Pertemuan kedua yang sudah kunanti-nanti pukul 16.00 WIB. Wa grup GMLD sudah online. Pertemuan ini membuatku tambah penasaran dengan materi berjudul " Yuk, kelola Jejak Digital yang Baik" dengan narasumber Bapak Dedi Dwitagama dan moderator Ibu Helwiyah. Pertemuan kali ini dibagi menjadi 4 sesi, yaitu
1. Pembukaan
2. Interaksi tanya jawab
3. Penutup

    Moderator membuka acara kemudian memperkenalkan sosok bapak Dedi Dwitagama yang mengajar Matematika di SMKN 50 Jakarta Timur. Beliau mempunyai ribuan jejak digital. Jika ingin mengenal lebih jauh tentang beliau bisa googling 


                                                Instragram Bapak Dedi Dwitagama:



                                          Youtube Bapak Dedi:


        Berbeda dengan pertemuan pertama, pak Dedi menyampaikan pesan panjangnya menggunakan voice note melalui wa grup pada sesi tanya jawab. Setelah menyampaikan pembukaan. pak Dedi meminta peserta untuk menjadi relawan dengan menceritakan salah satu guru terbaik dari SD, SMP, SMA, dan menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
        Peserta pun antusias untuk menyampaikan sosok guru terbaik mereka. Ucapan terima kasih disampaikan bapak Dedi kepada para peserta yang telah menjadi pelajaran. namun ada hal yang membuat saya berpikir emang benar kata beliau. Menurut Beliau jika kita mengaggumi seorang guru jika tidak meninggalkan jejak digital percumah saja. Seorang profesor saja jika tidak meninggalkan jejak digital tidak akan dikenal apalagi hanya seorang guru pasti siswa siswinya akan melupakan. Jadi jika tidak meninggalkan jejak di google, kita bukanlah siapa-siapa. Itulah yang membuat saya sadar jika kita diakgumi siswa tanpa meninggalkan jejak digital, seiring waktu mereka akan melupakan kita.
Sesi selanjutnya yaitu tanya jawab. 
        Di awali dengan pertanyaan pertama oleh ibu Min Sutarsih yang menanyakan karya apa yang melejitkan nama kita. Bapak Dedi menjawab pada dasarnya semua manusia adalah unik. Keunikan tersebut yang paling mudah dijadikan keunggulan. Persoalannya bukan karyanya tetapi pengelolaan jejak digital yang baik dalam jangka waktu yang lama dengan cara meninggalkan jejak digital di Fb, Ig, Blog, dll.
        Selanjutnya Ibu Eka yang menyampaikan kesedihannya dan malu siapakah aku ini. Bapak Dedi menjawab jika profesror saja tak dikenal apalagi seorang guru SD, SMP, SMA yang tidak meninggalkan jejaknya di google. Beliau mencontohkan dirinya untuk searcing foto, nama bapak yang ada di mana-mana.
        Bapak Dedi menjelaskan pertanyaan dari bapak Yusril yang menanyakan berupa apasajakah jejak digital.Bapak Dedi menjelaskan jejak digital berupa apa saja bisa berupa karya tulis, lukisan, foto, kegiataan pada saat itu bahkan foto sepatu anda karena jejak digita tidak terbatas. Atau mendokumentasikan kkegiatan saat mengikuti acara.
        Pertemuan kedua inilah yang membuatku sadar betapa pentignya jejak digital, yang sebelumnya saya takut jika meninggalkan jejak foto ataupun kegiatan akan di salah gunakan orang yang berniat tidak baik. Kita harus meninggalkan jejak dan selalu berhati-hati juga dalam menggunakan digital.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KBMN PGRI Gelombang 28 Pertemuan 1

Menulis di Kompasiana